Kamis, 09 Februari 2017

Maafkan dan Lupakan

Selembar kertas putih, bersih, tak bernoda. Tiba-tiba tak sengaja  satu titik tinta hitam terpercik di atasnya. Apa yang kita lakukan? Biasanya kita berusaha menghapusnya. Kadang mudah, namun seringkali sulit. Bahkan tidak jarang usaha kita itu malah membuat kertas itu robek dan tak utuh lagi.

Apakah hal itu bisa kita analogikan dengan hati kita? Dalam berbagai hubungan pertemanan, persaudaraan, tetangga, lalu salah satu berbuat khilaf, sadar ataupun tidak. Lalu kita tidak bisa menghapusnya dari hati kita, membiarkannya terus bermuara memenuhi hati dan benak kita, dan tidak sisakan sedikit ruang berimbang untuk terisi kebaikan dia?
--

Kenangan atau pengalaman hidup kita di dunia ini, ada dua: baik dan buruk. Kenangan buruk bisa disebabkan banyak hal, di antaranya akibat perlakuan, sikap, kata-kata atau perilaku orang lain yang sakiti hati kita.

Ada orang yang punya kecenderungan untuk memelihara kenangan baik, indah, menyenangkan dan tidak mempedulikan kenangan buruk.  Orang ini biasanya tampak gembira, optimis, cuma kadang mungkin kurang perhitungan. Ada juga yang mampu menyeimbangkan keduanya, biasanya pengalaman tidak baik ia jadikan cermin agar tidak mengulang hal yang sama. Namun, ada pula orang yang tanpa sadar, tanpa sengaja, suka menyimpan kenangan tentang kesalahan orang lain itu, lamaaa dan sedemikian dalam.

Dan salah satu orang itu adalah kamu. Ya, kau, kamu, anda.

Kamu suka menyimpan dan mengenang kesalahan orang lain.

Ada kesalahan dia yang selalu kamu ingat-ingat, kamu simpan dengan baik di dalam memorimu, sejak lama dan tampak semakin dalam. Kenangan buruk itu sewaktu-waktu kamu ungkit-ungkit atau ledakkan pada waktu yang kamu rasa tepat.

Namun ada yang aneh (atau mungkin sisi baiknya?), kamu menyimpannya bukan untuk memupuk dendam. Kenangan itu justru buat kamu merasa tidak nyaman, minder, sedih berkepanjangan, merasa tidak berarti, merasa kecil hati. Bertanya-tanya dalam hati, kenapa? Kenapa dia tega lakukan itu padaku? Padahal aku tidak punya salah apa-apa. Aku sudah berbuat baik, dll dsb dst.

Padahal semakin lama kau simpan rasa itu dalam relung kalbu dan benakmu, maka niscaya ia akan muncul lagi dan lagi, seperti menghantui.  

Ingin rasanya aku ajak kamu merenung, dengan hati tulus dan pikiran kosong. Aku tanya satu hal saja. Siapa orang yang dalam benakmu pernah berbuat salah itu, dia atau kamu? Dia kan?

Lalu mengapa kamu ijinkan pikiranmu me-reverse nya menjadi “kekurangan-kesalahan-ketidakmampuan-ketidakberdayaan”- dirimu sendiri?  Membuat kamu merasa perlu menarik dan menutup diri bahkan menolak lagi berkontak dengan dia?

Yang salah itu dia, bukan kamu. Seberapa besar seberapa dalam rasa itu, aku percaya tidak akan mampu membuat kesalahan itu hilang. Kesalahan itu benar pernah ada, pernah terjadi, mungkin berkali-kali. Namun seberapa kali pun dia meminta maaf dan mencoba menebus kesalahannya, tampaknya itu tidak berarti bagimu.

Kamu yang lebih paham ilmu agama dari aku pasti tahu: maka yang paling berhak untuk membalasnya adalah sang Maha Pembalas, yaitu Allah Subhanahu wa Taala. Jika Allah berkenan buat sesuatu, maka sungguh Allah tak perlu peranmu.

Tapi, mari kita tengok lagi hatimu, apakah betul ia telah sedemikian bersalahnya? Tak ada lagikah ruang dalam hatimu untuk memaafkannya? Tak adakah kebaikan dari dirinya? Sekecil apapun itu? Walaupun satu titik kebaikan? Satu titik pun?

“Dan barang siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar biji zarah, niscaya ia akan menerima pahalanya, dan barangsiapa yang melakukan keburukan  sebesar biji zarah, niscaya ia akan menerima balasannya.” (QS Az-Zalzalah: 7 -8)

Tolong, jangan timbun rasa itu menjadi makin menebal di dalam hatimu. Sampai kapan kau mampu terbebani? Makin lama niscaya makin terasa berat, dan membuat hidupmu makin menjadi sempit. Mari kita semua move on. 

Maafkan ya saling maafkan. Satu kata ajaib yang pasti akan buat hidupmu jadi jauuuh lebih lapang. Hidupnya pun akan jauuuh lebih ringan. Dimaknai dari kalbu nurani yang akan buat hubungan kalian tersambung kembali dengan hangat bahkan tak jarang penuh debat. Seperti dulu. Bukan cuma basa basi. Di luar sana, masih banyak sekali hal-hal indah yang perlu kita nikmati dan rayakan, bersama.

Mulai saat ini, mari kita bersama belajar dua dari dua hal.
Yang pertama dua hal pada diri kita:
“Lupakan, ya lupakan kesalahan orang lain pada diri kita, dan kebaikan kita pada orang lain.”
Yang kedua adalah dua hal yang harus senantiasa kita ingat:
“Ingatlah kesalahan yang pernah kita lakukan pada orang lain, dan kebaikan yang orang lain lakukan pada kita.”

MAAFKAN DAN LUPAKAN.



Minggu, 05 Februari 2017

KISMI, Haru Biru Membawa Keluarga Baru


Lewat Kismi, akronim dari KI (Kelas Inspirasi) Sukabumi, lagi-lagi aku beroleh satu keluarga baru. Anak-anak muda yang masih sempatkan diri jadi relawan sehari beri inspirasi profesi buat anak-anak SD di Sukabumi. Dan yang paling penting, bisa ketemu dengan anak-anak SD yang cerdas, penuh minat dan ceriaaa, khususnya Rikaaa...
---

Akhir tahun 2016, ada info dari teman sesama KI Cianjur, bakal ada KI Sukabumi 2 di awal tahun 2017. Setelah beberapa kali jadi relawan pengajar dan sekali fasilitator (fasil), kok kali ini kepingin coba jadi fasil lagi. Yang tugas utamanya adalah mendampingi relawan dan jadi penghubung dengan panitia untuk memastikan kegiatan KI berjalan sesuai visi dan misinya.

Awal November, masuklah email. Lah keterima geuning jadi fasil. Satu meet up di Bogor aku bisa hadir, ketemu beberapa fasil dan pantia. Setelah diundi, aku dapet kelompok 3 di SD Sukakarya. Dari list nama, aku rasanya optimis, profesi beraneka dan domisili juga beragam. Penghubung dengan sekolah juga mestinya jadi tugasku cuma karena kali ini panitianya baik-baik pisaaan, maka yang ini dibantu oleh satu panitia yaitu kak Angga.

Singkat cerita, grup WA pun dibuat. Dan mulailah aku sok kenal sok deket, coba becanda, bikin woro-woro ringkes. Dua minggu menuju hari Inspirasi rasanya cukup buat persiapan. Ada yang manggil teh Ani, ada juga yang manggil mbak Ani. Amaaan haha belum tahu mereka...

Ada satu hal yang bedakan grup WA di Kismi dengan kota-kota lain yang pernah aku ikuti, eta meni nyundaaa pisaaaan hahaha cucok lah sama aku. Jeung heureuyna saropaaan.. apa jaim nya? Assalamualaikum sering tertulis. Resep lah.

Hari pertama, ketua kelompok buat virmit (virtual meeting). Dan weits semua muncul dengan ide-ide keren. Malam kedua masih riuh rendah. Taapi malam ketiga mulai krik krik.... Yang respon mulai berkurang, mungkin ada sekitar 6 orang gantian respon. Ide-ide yang sudah banyak, ga ada yang bisa mutuskan dengan cepat. Daaan satu relawan mundur mendadak dengan alasan yang tidak jelas. Untung palu disimpan dengan aman di grup sebelah hihi..

Selanjutnya? Hahaha, aku kayak japrian di grup sama kak Angga atau kak Imam, sang ketua kelompok. Tiga hari berikutnya mungkin cuma sampai 4 relawan yang respon. Bahkan rasanya ada saru hari yang aku bawel sendiri di grup, ngingetin ini itu persiapan, ngingetin baca modul relawan, bikin list jadwal berangkat ke Sukabumi, dll. Dan hampir semua relawan hanya respon sesekali. Wiken yang aku pikir bakal lebih banyak yang nyahut, ternyataaaa Anda salah sangka sodara-sodaraahhh!! 

Seminggu lagi, relawan yang mundur tambah 2 orang, karena katanya ada`acara kantor yang betul-betul tidak bisa mangkir. Okay, yang dua ini sopan, ijin mundur dengan kata-kata yang enak dibaca.

Mulailah haru biru karena ternyata komunikasi aku yang tumpul. Aku jadi mikir, apa jangan-jangan aku terlalu bergaya emak-emak bawel ya selama seminggu ini? Padahal seminggu itu aku selalu sempatkan mantau grup dengan resiko vertigo makin kerasa.

Lalu besoknya aku sengaja seharian ga muncul di grup, akibat rasanya gemes banget sama grup yang “haseuumm pisaan” hahaha... istilah sapa tuuhh?? Eh ternyataaa ada efeknya juga. Yak besoknya mulai tuh mereka bagi tugas, saling mengingatkan apa saja yang mesti disiapin, ada juga yang japri minta ide materi ajar. Huhuuyyyy... 

Cuma terjadi dua drama. Mamanya kak Tati tiba-tiba masuk ICU. Dan sang ketua yang punya peternakan, tiba-tiba ayamnya mati, ga tanggung-tanggung 500 ekor!!!!! Tapi hebatnya mereka ga mundur. Angkat topi buat kalian kak Tati dan kak Imam. TOP BGT...

Dua hari menjelang, nyaliku rada ciut. Nih vertigo kok masih betah yaa... Tapi aku aseli ga enak sama situasi grup yang udah makin ngeklik. Satu hari lagi, alhamdulillah membaik, dan aku putuskan untuk berangkat.

Soal berangkat, jangan salah, masih ada drama. Aku berdua kak Rosa nyaris ketinggalan kereta, 2 menit lagi mau jalan dan kami sukses berlari-lari sambil nenteng nenteng ransel plus properti ngajar, tapi satu lagi kak Dito betulan ketinggalan kereta padahal tinggal 5 menit lagi sampai stasiun. Ada satu orang lagi, kak Gangga baru mendarat dari Jogja dan kebingungan gimana caranya sampai Sukabumi . Tapi syukurlah bisa ada solusi dengan bantuan panitia.

Sampai Sukabumi, kami semua bisa kumpul (minus kak Gangga) dan begadang barengan buat nyiapin printilan yang masih belum beres (yang aku sebetulnya pengen nakol haha). Di malam itulah chemistry di antara kami makin klik. Aku bersyukur banget.

Tapi ada satu dampak negatif dari bisa kumpulnya kami. Yang tadinya manggil teh Ani, kak Ani, mbak Ani, berganti jadi bunda atau ambu Ani... Wakaakak tegaaa.... Ya eyalah emaaak, mereka seumuran ponakan elooo...

---

Tibalah hari Inspirasi. Sejak subuh, hujan turun di sekitar tempat kami menginap. Sambil bersiap-siap kami berharap banget hujan bisa sedikit reda. Namun ternyata hari itu memang hujan masih mau menguji mental kami.

Pembukaan yang sudah disiapkan mesti pake plan B karena hujan. Tapi tetap kami semua usahakan bangkitkan semangat anak-anak. Sukanya ternyata binar2 semangat dan rasa ingin tahu mereka masih besar. Tampak jelas muka-muka penasaran lihat 13 orang makhluk asing yang tiba-tiba muncul entah dari mana dengan kostum warna warni plus senyum sok kenal tea.

Kelas pun mulai, dan aku berkeliling cek semua teman relawan sambil sesekali diseling ngobrol dengan para guru yang masih penasaran apa itu KI. Respon ibu-ibu guru amat positif, atau mungkin akibat efek satu box Lapis Bogor yang sengaja aku bawa yaaa hihi....

Aku legaaa banget... Iihhh para inspirator ternyata di kelas semua kreatif.. jam pergantian sesi pasti selalu sedikit lambat karena anak-anak masih antusias.

Menjelang penutupan, alhamdulillah ternyata matahari mulai muncul walau masih malu-malu. Aseekk jadi penutupan bisa kami buat di lapangan. Semua anak antusias, dan yang paling lucu mereka minta tanda tangan semua relawan di topi atau kipas buat suvenir mereka pulang. Semoga kelak di antara kalian ada yang jadi polisi, penulis, peneliti, bankir, petani hebat, atau pengusaha ya anak-anakkuuuu...

Saat penutupan, aku amati satu persatu wajah para relawan. Dalam hati aku bergumam, trimakasih kawan-kawan. Ambu Ani bangga dengan kalian semua, anak-anak muda Indonesia yang masih punya rasa peduli dan semangat buat berbagi. Seakan terbayar oleh binar mata anak-anak SD Sukakarya itu. Ambu mrebes mili... nantikan kami yaa anak-anak, pasti bakal balik lagi dengan bawa keriuhan baru,

Yak.. Kalian rasanya bukan baru ketemu satu dua hari (semoga aku ga GR haha): Ami sang penulis yang ceria (tadinya aku kita ahli komputer haha), Oca  sang finance yang kalem dan manis banget, Nina tukang pidio yang mungil2 rawit, kak Tati sang polwan yang mantap abis nyiapin akomodasi buat kami, Cipto sang peneliti yang penyelamat jadwal di injury time, Dito sang bankir yang cian banget roaming abis, Lukman sang pengusaha yang rajin ngaji dan teh manisnya paass banget, wa Yaman yang jaim di grup tapi ternyata baweeelllna moal aya duaaaa, Wigi sang tukang poto yang kayak kalem tapi gilaa, Gangga sang arsitek yang masih jetlag, and last but not least Imam sang petani yang “wareg” aku omelin plus Angga sang panitia yang “wareg” aku curcolin. Hahaha...

Yaa... Haru biru membawa keluarga baru.

Walaupun setelahnya aku terkapar demam dan kagak boleh ngantor sama teteh dokter, tapiii love you full, gaes.
Keep inspiring... See you soon


(kirim-kirim moci atuuuhhh laahhhh supaya cepet sembuhhh)

Minggu, 22 Januari 2017

SUMEDANG, Desaku yang Kucinta



Description: Foto Susanti Leila Puri.


Sumedang,

Begitu orang mendengar nama kota (atau lebih tepatnya kabupaten) ini, biasanya langsung komentar: tahuuu.. mau atuuhh tahu Sumedang panas.. haha .. Begitu lekatnya tahu dengan Sumedang. Tapi memang betul sih, tahu di Sumedang selalu lebih enak daripada ketika kita beli di luar Sumedang, kata orang sih karena efek air dan tanahnya. Wallahu alam.

Sumedang bukan tempat kelahiranku. Aku lahir dan besar di Bandung, sampai menikah dan punya satu balita. Ibu dan bapak lah yang kelahiran Sumedang. Namun buat kami keempat anak-anaknya, Sumedang selalu lekat di hati.

Kampung kelahiran ibuku terletak di sebuah desa bernama unik: Burujul,  di kecamatan Tanjungkerta. Sekitar 7 km dari terminal Ciakar atau 10 km dari alun-alun Sumedang. Kampung yang masih terasa damai sentosa walaupun akhir-akhir ini pengaruh perkotaan makin merangsek masuk.

Sejak kecil, setiap liburan sekolah, selalu kami habiskan di rumah Nini-Aki (nenek-kakek). Sampai aku menikah, di minggu terakhir puasa, biasanya kami sibuk siap-siap mudik dan melewatkan hari-hari akhir Ramadhan sampai hari kedua lebaran di sana. Pernah satu kali aku terpaksa lebaran di Bandung akibat jadwal sidang Tugas Akhir S1 yang dekat lebaran, itu pun rasanya sediiiih banget ga bisa kumpul.

Aku ingat dulu sewaktu masih kisaran usia SD, ke kampung Nini belum ada jalan akses mobil dari kota. Baru ada jalan tanah. Untuk mencapainya, kami harus melewati kampung sebelah bernama Panyingkiran lalu jalan memutar lewat sungai dan pesawahan. Jaraknya mungkin sekitar 5 km. Haha serius 5 kilometer booo.. dengan berjalan kaki.

Biasanya ada saudara yang jemput di kampung Panyingkiran itu, bantu bawakan tas kami atau bantu gendong aku yang masih balita. Untungnya sungai itu tidak dalam, mungkin hanya sekitar 50cm dalamnya. Kami menyebrang sungai lalu susuri pematang sawah yang berliku-liku, melintasi tiga kampung, baru sampai rumah Nini. 

Satu lagi, waktu aku kecil, listrik belum masuk ke kampung ini. Jadi kami alami malam-malam mesti nyalakan lampu semprong atau petromak. Suka takjub nonton Aki ngurus petromak sampai menyala terang. Listrik dan jalan akses rasanya baru ada ketika aku SMP.

Setiap libur sekolah, pasti aku dan para sepupu kumpul di rumah Nini. Jaman dulu masa liburan SD SMP pasti selalu sama atau paling tidak hampir bareng, bahkan di kota yang berbeda. Kalo sekarang huh jangan tanya haha jadwal liburan kakak adik di satu keluarga saja sering beda.

Ritual kami di pagi hari adalaaaah mandi di sungaaii... hahaha... istilah Sundanya guyang. Airnya bersiih, belum banyak batuan. Asyiiik banget dah.... Kadang sebelum mandi, kami main-main ke sawah. Liat orang menanam padi atau sedang panen. Dekat sungai, berderet tanaman buah punya uwa, dari mulai rambutan, pisitan (sejenis duku), sawo, coklat. Habis guyang, kami suka manjat pohon-pohon itu dan metikin buahnya.

Ada satu pengalaman pahit haha,,, yang selalu terbayang dan jadi bahan ledekan ketika sekarang kami kumpul. Satu waktu, kami main ke sawah. Tiba-tiba ada anjing berkeliaran sambil menggonggong. Kami pun lari tunggang langgang. Apesnya aku ga liat jalan, kesandung pematang daaaan ya salaaam jatuh ke kubangan lumpur di sawah kosong. Wakakakakkkk.... jadilah ketika itu, aku pulang dituntun kakak dengan muka belepotan lumpur. Sialnya lagi si kakak ga ingat buat sekedar cuci muka aku di pancuran.

Kadang kami iseng ikut Nini bantuin di dapur atau lebih tepatnya ngerecokin hehe, bikin opak lalu dibakar di hawu, bubuy hui atau sampeu di abu hawu(ubi/singkong di abu anglo), nonton uwa ngaduk adonan wajit di penggorengan yang guedee. Abis main di dapur, biasanya lubang hidung kami pada hitam semua.. haha...

Setelah mandi sore, kami biasanya makan. Waktu itu, masakan Nini rasanya paling nikmat sedunia. Pindang ikan yang empuuuk dan gurih banget, sayur tahu, lalap sambel, goreng tempe panas-panas. Kadang ada ase cabe hejo atau sambel leunca atau surawung (kemangi). Hhmm yummy...

Beres makan, satu ritual asyik lainnya menanti, dongeng Aki. Kami semua baring kelilingi Aki yang duduk di tengah. Dongengnya macem-macem, kadang tentang wayang, kadang tentang sejarah. Aaahhh seruuuuu....Dongeng itu kadang Aki buat bersambung. Nah ini, akibat selalu ketiduran sebelum dongeng tamat di malam itu, akibatnya malam besoknya aku bengong ga ngerti sambungannya. Hahaha...

Aaahhh....

Itulah kenangan masa kecilku: liburan di kampung, bubuy hui, jarambah atau ngebolang, mandi di sungai, masakan Nini, dongeng Aki,.

Seruuu...
Indaahhh...
Ngangenin...


Pokoknya desaku yang kucinta, pujaan hatikuuu....

Senin, 19 Desember 2016

Ibu Pengembara

Aku mungkin ibu pengembara
terus mencari jalan
sibak duri dan onak

Barangkali sedikit lambat
Kala yang lain telah bersarang
dengan sentosa
Tapi aku yakin
rancangan-Nya pasti indah

Ya, aku ibu pengembara

Di tengah gegap gempita
aku pilih jalan lain
dengan sadar
Sering terasa sunyi,
sepi, sendiri

Namun aku tahu
di dekatku penopang dari-Mu
Selalu

 ----

*penandatitikhijrahku

Selasa, 29 November 2016

Recharge batin di Suryakanti

Bermula dari postingan di grup Whatsapp dari kawan Banil, yang kabarkan info mbak Yuyun, kawan kami, butuh bantuan. Bantuan untuk temani beberapa anak yang mesti terapi di Suryakanti. Waktu itu aku dalam perjalanan ke Bandung, buat hadir di persiapan nikah Fadhilah keponakanku.

Entah kenapa, hatiku langsung tergerak, kayaknya aku bisa ikut bantu nih. Langsung aku kontak mbak Yuyun. Tapi baru dapat balasan besok paginya.

Mbak Yuyun seniorku di TL ini adalah pendiri Bali Focus, suatu lembaga yang bergerak pada isu mercury monitoring dan advokasinya. Empat tahun terakhir aktivitasnya lalu melebar ke isu kesehatan. karena ternyata dibutuhkan. Mereka membantu peningkatan derajat kesehatan warga di sekitar tambang emas yang terpapar merkuri, mulai dari perawatan dokter dan rumah sakit, perbaikan gizi, atau terapi seperti yang sekarang ditempuh di Suryakanti. Merkuri adalah sejenis logam berat yang dalam jangka panjang akan terakumulasi dalam tubuh manusia dan menyebabkan berbagai dampak negatif.

Yang akan terapi di Suryakanti ini berasal dari Kasepuhan Adat Cisitu, Cibeber, Kabupaten Lebak, nun di perbatasan Sukabumi-Banten. Anak-anak ini born pre-polluted akibat terpapar merkuri. 

Ada lima anak dengan berbagai kondisi. Sejak kemarin, anak-anak ini  di-assesment dan mendapat beberapa sesi terapi. Mereka diantar orangtua masing-masing. Tapi mereka butuh ada yang dampingi, untuk teman ngobrol atau kalau2 ada hal-hal yang perlu dikomunikasikan langsung dengan mbak Yuyun yang siang itu sedang ada kegiatan juri di UI Depok. 

Sejak tinggal di Bandung, aku rasanya pernah tahu tentang klinik Suryakanti, semacam tempat terapi psikologis/psikiater. Ternyata Suryakanti sekarang sudah berkembang jadi semacam pusat terapi terpadu, dari mulai medis dengan dilengkapi fasilitas fisioterapi. Lokasinya di Terusan Cimuncang.

---

Sampai di Suryakanti, seperti info mbak Yuyun, aku mencari mbak Diana, bagian adminnya. Mbak Diana yang cantik dan ramah, menjelaskan sekilas tentang kondisi kelima anak itu lalu kenalkan aku dengan para orangtua. Begitu aku bilang, temannya bu Yuyun, mereka langsung tersenyum dan menyambutku dengan ramah.

Aku coba berbasa basi sejenak, lalu amati anak-anak itu sambil berusaha menghafalkan nama mereka.

Ada Rifki yang sedang digendong ibunya, microcephalus. Mukanya cakep banget, putih bersih. Aku elus-elus pipi dan kakinya. Tiba-tiba dia tersenyum padaku, senyum lebar. Aaahhh, mulai deh meleleh hati ini. Ibunya tampak masih muda banget, mungkin umurnya baru sekitar 20 tahunan. Ayahnya juga masih muda. Mereka bergantian memangku Rifki, sambil ajak ngobrol dan mengusap-usap buah hatinya itu.

Yang kedua bernama Jasmine, anak perempuan usia 2 tahun. kabarnya sang ibu memberi nama Jasmine Parisa karena ngefans berat sama Paris Hilton hehe..  Lucu, berpipi gembil, tampak sehat, aktif jalan ke sana kemari dan main ayunan. Ia hanya ditemani ibunya.

Satu anak lagi, namanya Angel. Dia langsung hampiri aku, bersalaman sambil senyum-senyum. Anaknya tampak sehat namun ternyata sering kejang, diagnosis pembengkakan kelenjar tyroid. Ayahnya Angel tampak senang mengobrol hehe aku sempat bercanda dengan dia dan ibunya Angel.

Lalu satu anak cantiiik bernama Camelia, 6 tahun, rambut ikal, kulit putih. Diagnosanya severe autistic. Keluar dari ruang terapi, sambil disuapi, aku ngobrol dengan ibunya. Ehh tiba-tiba Camelia mendekat terus gelendot ke badanku. Aku langsung pangku dia sambil usap-usap kepalanya.


Yang kelima bernama Febri, yang tak hentinya main sepeda berkeliling koridor klinik. Haha.. ibunya sampai kelelahan dorong-dorong itu sepeda. Febri sejak bayi sering panas tinggi dan kejang, biasa diberi obat anti kejang. Di klinik ini, ia mendapat terapi obat yang ternyata tidak cocok, sekujur badannya gatal-gatal kemerahan. Siang itu, dokter merujuknya untuk dibawa ke rumah sakit.

Berbekal surat pengantar dari Suryakanti, aku temani orangtua Febri ke RS Santo Yusuf. Sesampai di IGD, dokter jaga di situ lalu memberi saran supaya langsung konsul ke poli anak. Aku temani sang ibu masuk ke ruang dokter. Bersyukur, dokternya ramah dan kooperatif, ia wawancara si ibu tentang kronologis riwayat kesehatan Febri sejak lahir. Alhamdulillaah tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sang ibu dibekali obat puyer plus vitamin untuk daya tahan.

Setelah semua beres terapi dan pulang dari rumah sakit, aku pamitan. Aku salami dan peluk mereka satu persatu. Semua ucapkan terima kasih dengan mata yang tuluuss.

------

Beres temani mereka, aku jalan pulang. Mampir sebentar ke kedai kecil untuk minum sekedar teh manis atau kopi.

Air mata yang sedari tadi aku tahan-tahan, keluar juga jadi tangis pelan.

Qadarullah, Allah beri aku jalan untuk perkaya batin ini.

Bukan mereka yang harusnya ucapkan terimakasih. Apa yang aku lakukan ini tidaklah sebanding dengan perjuangan dan keikhlasan mereka, menyayangi dan menerima dengan tabah apapun kondisi anak mereka. Juga hanya seujung kuku dibandingkan dengan apa yang telah mbak Yuyun (dan Bali Focus) perjuangkan.

Aku yang berterimakasih, sebesar-besarnyaa, sebanyak-banyaknyaa.

Aku belajar dari orang-orang sederhana ini. Belajar tentang ketabahan, belajar tentang keikhlasan. Sekaligus menampar aku yang sering berkeluh kesah, padahal pengalaman sedih atau pahit yang aku alami, wuuiihh ga adaaaa apa-apanya dibanding mereka.

Terimakasih Rifki, Amel, Febri, Jasmine, Angel.  Seberkas sinar telah kalian kirimkan ke dalam hati ini, mengisi ulang batin ini yang sering kering kerontang.

Good luck, anak-anakku… Sehat-sehat semuaaa..  Semoga Allah beri jalan untuk kesembuhan kalian, anak-anak hebat. Semoga kalian bisa mandiri dan punya kehidupan yang baik.

Terimakasih juga buat mbak Yuyun, terus berjuang mbak.. Semoga lain waktu aku bisa dapat kesempatan untuk sedikit bantu lagi.

 ----



*buat kawan yang berkenan untuk support dana, dibuka fundraising di platform Kitabisa.com, dipersilakan, dengan sangat,….


Minggu, 20 November 2016

Wilujeng angkat, Mang…..

(didedikasikan buat Mang Muhya, satu sosok teramat sederhana namun tak ternilai jasanya bagi keluarga kami)
--

Dua hari menjelang akhir diklat-ku di Jogja, aku dikejutkan kabar di WA grup keluarga dari kakak sulungku, kabarkan wafatnya mang Muhya, salah seorang famili kami di Sumedang, kampung kami.
Innalillaahi wa inna ilaihi roojiuun. Ya Allaah, gemetar rasanya sekujur tubuh ini. Kaget sedih nyaris tak percaya.

Ketiga kakakku langsung inisiatif, mengatur ini itu, siapa yang duluan berangkat ke Sumedang, bantuan pemakaman, berbagi tugas, dan lain-lain. Sementara aku masih tercenung, sendirian di kamar, pada jarak yang jauh. Dalam hati terucap doa untuk Mang Muhya sambil terisak.
----

Mang Muhya adalah keluarga jauh dari ibuku almarhum. Lahir, berkeluarga, dan tinggal di dekat rumah nenekku, nun jauh di suatu kampung bernama Burujul di Kabupaten Sumedang. Sewaktu kecil, yang aku ingat, bi Odah istrinya adalah orang yang selalu ada di dapur Nini (nenek kami) membantu beliau wara wiri pekerjaan di dapur dan di sawah.

Ketika Nini sudah wafat, Ibu makin sering ke Sumedang untuk mengurus berbagai hal. Menemani ibu, aku jadi lebih sering ketemu keluarga bi Odah dan mang Muhya.  Mengobrol berbagai hal tentang mengurus sawah sambil siduru di hawu (berkumpul di dapur dekat anglo), ngabubuy sampeu atau hui atanapi meuleum ulen (manggang ketan). Nikmaatt...  (ngabubuy apa yaa padanan katanya dalam bahasa Indonesia, haha silahkan googling).

Mang Muhya dan bi Odah adalah keluarga jauh Ibu dari Nini, tapi aku juga tidak ingat bagaimana pancakaki (hubungannya). Dua sosok sederhana tapi amat sangat bisa diandalkan, membantu berbagai hal pada keluarga kami.

Saking sederhananya, baju yang sehari-hari mereka pakai mungkin hanya dua atau tiga setel.  Itu pun kadang aku perhatikan baju-baju lungsuran Apa (ayah kami) atau kakakku. Makan sehari-hari cukup dengan tahu tempe, asin dan lalap sambel. Bukan tak mampu menurutku. Mereka sendiri punya beberapa petak sawah, balong, dan kebun, juga beternak ayam. Tapi ya itu, karena tidak biasa makan berlebihan dan merasa cukup dengan yang ada.

Yak, sederhana, satu contoh buat kami dan hal pertama yang melekat di ingatanku.

Buat kami, mereka jauuuh lebih dekat dari sekedar famili jauh. Setiap kami perlu bantuan mereka, pasti tak ragu langsung singsingkan tangan. Kepentingan mereka sendiri sering dinomorduakan. Kadang kami tidak perlu katakan apa-apa, mereka sudah paham apa saja yang perlu dilakukan.

Jika kami mudik, begitu datang, mereka langsung sibuk sana sini siapkan macam-macam, tanpa kami minta. Bahkan kadang kami larang karena khawatir merepotkan. Kadang kami sengaja tidak memberi kabar mau datang tapi yang ada malah seperti disalahkan karena mereka jadi merasa tidak siap.

Sangu akeul haneut, goreng ayam kampung dadakan, lalap sambel, segera tersaji di meja. Dampak negatifnya adalah aku kalo makan pasti nambah nasi haha.. gawaat... tidak mendukung diet ini mah.
Jika kami belum selesai makan, mereka pasti belum makan. Walaupun kami sering ajak makan bersama. Tapi rasanya tidak pernah mereka mau. Mereka makan ketika kami sudah selesai makan.

Namun dengan keistimewaan yang kami dapat, ibu bapak selalu tanamkan bahwa mereka itu 
keluarga.  Ya, keluarga. Buat aku, mang Muhya dan bi Odah ya adik ibuku. Anaknya Ujang Ayet dan Ai, ya adik-adikku. Kami sudah ga sungkan-sungkan bercanda, kadang Ujang memberi saran atau bahkan kritik yang menggelitik.

Hal kedua yang melekat di hati, keluarga jauh tapi terasa dekaat sekali.

Ada satu hal lain yang bikin aku terkagum-kagum.  Mang Muhya amat rapi menyimpan administrasi dan amanah mengelola titipan Aki dan Nini. TItipan yang tidak banyak, Cuma sepetak dua petak sawah dan beberapa kebun dan kolam. Tapi mang Muhya selalu mencatat semua kegiatan, pengeluaran dan pendapatan dalam satu buku besar. Rapiiiii banget. Lengkap dari mulai tanggal, berapa volumenya, keterangan, dan rupiahnya.

Amanah. Satu contoh lain buat kami. Hal ketiga.
--

Tahun lalu Mang Muhya mulai sakit. Mengeluh sering sakit kepala dan telinga berdenging. Berobat ke dokter lalu dirujuk ke rumah sakit kecil di kota Sumedang. Lalu dioperasi.

Kami yang baru tahu setelah dioperasi, langsung ngananaha (menyalahkan dengan khawatir/sedih): kenapa ga pernah berkabar waktu sakit awal. Kan bisa coba konsul ke dokter yang lebih ahli di Bandung. Bahasanya lagi-lagi: ah wios, alim ngarepotkeun (ga papa, tidak mau merepotkan).
Tadinya kami tidak paham apa itu operasi. Ternyata setelah menyimak cerita Ai anaknya. Itu tampaknya tindak biopsi. Dengan hasil diagnosis kemungkinan kanker. kami terkaget-kaget waktu itu dan langsung diskusi keluarga supaya mau berobat lebih lanjut.

Akhirnya setelah dibujuk dengan berbagai cara, mang Muhya bersedia berobat ke ke RSHS di Bandung. Semua treatment yang diinstruksikan dokter, ia jalani dengan penuh semangat. Kadang memang mengeluh, tapi tekadnya tetap kuat: hoyong damang (ingin sembuh). Singkat cerita, paket kemoterapi dan radiasi diselesaikan sampai tuntas. Kedua anaknya tak tanggung-tanggung mengurus ayahnya ini wara- wiri ke RSHS dengan BPJS yang terbukti memang menguji kesabaran sang pasien.

Hal keempat buat renunganku, sabar dan ikhlas ketika sakit.

(Ada satu hal yang kadang aku sesali sekarang. Janjiku waktu itu untuk temani berobat ternyata tidak bisa aku tepati. Karena jarak dan kesibukan di rumah dan kantor, cuma bisa pantau dari jauh, via grup keluarga atau telpon Ujang.)

Tiga bulan lalu, aku pulang mudik waktu Iedul Adha. Mang Muhya baru selesai paket kemoterapinya. Alhamdulillaah, wajahnya segar dan bisa ngobrol macam-macam. Waktu aku datang, ia sedang sibuk di gudang, kutrak ketrek betulin pacul dan perkakas lainnya. Walaupun badannya kurus tapi wajahnya segar. Mengobrol dengan seru dan semangat.

Ternyata kali itulah terakhir aku ketemu dengannya.
---

Sabtu tanggal 29 Oktober pulang diklat, hari Minggunya langsung aku menuju kampung. Pengen ketemu bi Odah, Ujang, dan menengok makam mang Muhya. Begitu ketemu bi Odah, aku peluk dia. Tidak ada kata-kata keluar. Tapi setelah ngobrol beberapa kata, mulai mengalir air matanya sambil tak lepas memandangku. Hiks aku langsung nangis juga. Dan berpelukan lah kami sambil bertangisan. Katanya: kunaon bet angkat, pan kamari tos sehat (kenapa malah pergi, kan udah sehat). Duh sedih banget aku melihat tatapan matanya….

Setelah bi Odah reda. Aku coba ngobrol sama Ujang anaknya. Dengan tegar, Ujang bercerita kronologis sakitnya sampai wafatnya. Ternyata setelah paket kemoterapi, seharusnya mang Muhya kontrol lagi ke RSHS. Tapi dibujuk-bujuk, ia tidak mau. Kakakku termasuk yang usaha membujuk bahkan sampai menjemput ke kampung tapi ia menolak.

Mungkin itu penyebab fisiknya lalu drop kembali. Ketika ada yang dirasakan kembali, ia tidak mengeluh pada istri dan anak-anaknya. Ketika sudah parah, Ujang bercerita sambil mimik kesal: ku naon atuh bapa teh teu nyarios? Pan Ujang bisa usaha ngubaran (kenapa bapa ga cerita kan kita bisa cari jalan untuk berobat lagi), mukanya sedih dan langsung air matanya keluar. Pan bapa embung ngaripuhkeun wae anak (kan bapak ga mau merepotkan anak terus menerus), begitu jawabnya.
Kami pun bertangisan lagi.

Bagian terakhir obrolan kami, ada satu hal lagi yang juga berkesan buatku.

Ujang berkata: Teh, abdi mah emut pisan baheula pesen Bapa waktos uwa Yoyoh (ibuku) pupus. Ujang teh pan sedih teras nangis. Saur bapa, ulah diceungceurikan, kudu ikhlas, bisi almarhumah beurateun. Kudu ingetna uwa teh siga biasa bade mulih ka Bandung. Urang cukup nyarios, uwa wilujeng angkat, mugi-mugi salamet dugi tujuan.
Tah kitu teh, ayeuna oge pami Ujang mimiti sedih emut ka Bapa. Emut eta we. Jadi dianggap bapa teh bade angkat we ka mana kitu: wilujeng angkat pa, bari ngagupaykeun panangan, ati-ati di jalan.

(Teh, Ujang ingat pesan Bapa waktu wa Yoyoh wafat. Ujang ulah nangis, harus ikhlas, supaya almarhumah diringankan jalannya. Anggap saja uwa mau pulang ke Bandung seperti biasa. Cukup ucapkan: selamat jalan wa, hati-hati di jalan, semoga selamat sampai tujuan.
Sekarang juga kalau Ujang sedih ingat bapa, ciptakan saja bapa mau berangkat ke kota, cukup lambaikan tangan dan ucapkan selamat jalan.)

Aah… begitu sederhana kata-katanya tetapi dalam maknanya.
Hal kelima yang paling berkesan buatku.
---

Wilujeng angkat mang Muhya.
Mugi-mugi husnul khotimah, ditampi iman Islam-na, dihapunten sagala kalepatanna, dicaangkeun alam kuburna.

Haturnuhun kana sagala kasaean mamang ka kulawarga abdi sadaya.

Minggu, 13 November 2016

Komunitas yang Membuka Mata Hatiku

Komunitas.

Satu kata yang sekarang amat sering digunakan orang. Satu kata yang dulu ketika sekolah dan kuliah rasanya belum masuk perbendaharaan di otakku tapi kini menjadi satu kata yang melekat di hati dan ingatanku.

Dalam pengertianku, komunitas itu sekumpulan orang dengan visi yang sama pada satu hal spesifik, yang lalu menjalankan berbagai misi untuk mencapai visi itu. Memang kedengarannya jadi mirip pengertian organisasi, tapi mungkin bedanya adalah komunitas ini sering tidak direncanakan, bentuknya informal, dan lebih berat unsur kerelawanannya, atau kadang malah anti mainstream.(hehe.. gaya amat ya mulai belajar berdefinisi).

Dan setelah googling, ternyata menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), komunitas adalah kelompok organisme (orang dan sebagainya) yang hidup dan saling berinteraksi di dalam daerah tertentu. lumayan memper-memper juga ya definisi karanganku.


Komunitasku yang pertama dan sampai sekarang masih selalu aku usahakan untuk tetap bergabung adalah Kelas Inspirasi (KI). Yang awalnya cuma niat ikut gabung karena pengen coba-coba, lalu terus ikut dan ikut karena rasanya nagih. 

Di sinilah mula aku belajar tentang semangat perkawanan dan kerelawanan, bekerja bersama-sama dalam format yang “tidak resmi”. Sulit untuk diuraikan dengan kata-kata, tapi di sinilah aku merasa satu pencarianku menemukan jawabannya.

Ketika lingkungan kerjaku mulai terasa negatif, ketika aku merasa tidak temukan kawan yang satu visi atau satu pemahaman, ketika orang hanya dinilai dari apa yang dia pakai dan bukan dari apa yang ada di otaknya, ketika nilai-nilai material dikalahkan oleh kekayaan hati.

Di KI-lah, aku belajar tentang ketulusan. aku bergaul dengan orang-orang positif. Aku belajar untuk tidak menilai orang dari busana atau penampilannya, tapi dari hatinya. Bahkan orang yang awalnya tampak garang menyeramkan sekalipun, ternyata banyak teladan yang bisa aku contoh darinya

Di sini aku melihat bahwa hal-hal material itu seperti tidak berarti. Ada banyak orang-orang yang tidak kekurangan secara materi tapi tidak berniat memperlihatkan kekayaannya. Tidak merasa keren, tidak merasa lebih dari yang lain. Yang tampak hanya semangat untuk berbagi. 

Selain jadi relawan pengajar, dua tiga kali aku juga mencoba jadi panitia. Rempong bin riweuh memang, karena komunikasi utama biasanya lewat grup Whatsapp yang bisa aktif hampir 20 jam sehari. Buat mamak2 macam awak ini, jam 10 malam sudah menguap lebar-lebar, itu butuh energi lebih. Tiap orang punya kontribusi,sekecil apapun akan selalu dihargai. Aku pernah gabung di tim sekretariat, yang kadang jam 11 malem tiba-tiba kudu bikin konsep surat untuk pinjam gedung. Waduuhh..!!! Mungkin remeh yaa, tapi rasanya hati ini senang bin semangat aja.

Semua orang bekerja keras bersama-sama untuk capai satu tujuan yaitu mencoba memberi warna bagi pendidikan anak-anak Indonesia. Bekerja bersama-sama yang kadang tampak seperti sekumpulan orang gokil bin aneh. Ya iyalah orang-orang yang mauuu aja korbankan waktu, energi, materi, "cuma" untuk persiapkan suatu kegiatan ngajar tentang profesi pada anak-anak SD. 

Kadang-kadang tujuan itu mungkin dianggap agak gila, lebay, atau aneh bagi orang lain. Contohnya ada satu kawan yang sudah bergabung menjadi relawan KI di 23 kota. Yak dua puluh tiga kota, saudara-saudara. Dengan biaya sendiri, mengorbankan waktu hanya untuk datang ke satu sekolah dan berbagi cerita tentang profesinya. Ada lagi satu kawan yang mau-maunya jadi penggagas KI Tanimbar. Di mana pula itu Tanimbar? Nun jauh di sana, yang perjalanannya saja tidak mudah dan butuh biaya jutaan. Tapi kok dia mau yaa? Aneh bin ajaib kan.

Dari usia muda sampai usia ga muda tapi masih ingin berjiwa muda (contohnya saya sendiri hehe) bergabung bersama, dari satu satu kota, lalu menjadi gerakan yang massif.

Berangkat dari komunitas ini, lalu aku terhubung dengan banyak kawan dari berbagai latar belakang dan berbagai daerah atau juga dengan komunitas lainnya. Itu satu hikmah yang amat aku syukuri. Networking dan silaturahim terjalin dengan hangat. Informasi bisa menjalar dengan cepat, misalnya ketika ada satu kawan yang perlu bantuan buku atau Rumah Singgah, lewat networking inilah banyak pihak yang bisa terhubung lalu saling bantu.

Hal positif lainnya adalah pikiranku lebih terbuka. Aku pelan-pelan belajar menjadi orang yang lebih terbuka. Tidak gampang hakimi orang, coba kenali potensi teman, bisa ajak atau bahkan paksa orang untuk keluar dari zona nyamannya dan mencoba hal-hal baru yang tentunya positif. Pembelajaran ini kuakui masih berproses tapi lumayan lah buat seorang kutu buku yang ga gaul macam awak iniiii...

Tak kupungkiri, ada banyak kritik untuk gerakan ini. Misalnya, mana mungkin dalam setengah hari atau cuma sekian jam kita bisa memberi inspirasi tentang cita-cita pada segerombolan anak-anak SD. Belum tentu juga anak-anak itu sekolah terus, mungkin sampai SMP atau paling banter SMA dia sekolah lalu bekerja jadi kasir di minimarket misalnya. Dan mungkin masih banyak lagi kritik lainnya.

Tapi kembali lagi, buat aku pribadi lebih baik nyalakan lilin daripada mengutuk dalam kegelapan. Lebih baik berbuat sesuatu, walaupun mungkin kecil, daripada kita hanya berdiam diri. Lebih baik turun tangan, daripada hanya tunjuk tangan. (dikutip beberapa semboyan atau tagline Kelas Inspirasi).

*teriring rasa syukur pada Allah yang memberi jalan dan kesempatan